Friday, 10 December 2010

My Microsoft Word Page

this is what's on my mind when i described about my college for my task. let's see some strange sentences. lol. when i tried to filled my microsoft word page with nine paragraphs i've drunk 7 tablets of aspirin *lol* and this was made a hard time for me! arrrgh. hope you enjoy it ^^


Kala Senja Datang dan Pergi

Sebelumnya sore itu terasa sangat melelahkan sampai saat dosen matakuliah terakhir menyudahi pertemuan. Kukemas pena dan buku catatanku dengan segera, samar-samar terdengar beberapa mahasiswa berbincang mengeluhkan pertemuan kali ini. Kuregangkan otot-otot yang sedari tadi tegang karena duduk terlalu lama. Kulangkahkan kaki ini berusaha seringan mungkin ke pintu ruangan. Kuamati lorong yang beberapa jam lalu terang benderang karena sinar matahari dan terdengar suara-suara dari mahasiswa yang sedang bercakap-cakap atau pun sedang menaiki tangga dengan setengah berlari mengejar keterlambatan. Sekarang yang kurasakan hanya terpaan angin dingin. Kutelusuri lorong remang-remang itu, sama-samar terdengar suara langkah-langkah kaki teman-teman sekelas ku tadi sedang berlomba menuruni anak tangga. Aku pun menuruni anak tangga dengan perlahan, nampaknya para petugas kampus belum menyalakan lampu-lampu penerang. Tak lama kemudian aku pun sampai di lantai dasar, kusempatkan diriku merapikan benang-benang kusut yang melilit tubuhku di depan cermin.

Tiba-tiba terdengar perut ini mulai menyanyikan lagu yang tak berirama. Kupaksakan sepatu putih gading yang sedang kukenakan ini menemani langkahku menuju kopma. Hanya segelintir mahasiswa sedang mengisi perut di bangku-bangku kopma. Sangat berbeda dengan keadaan siang tadi saat aku dan teman-teman memesan minuman segar dan tahu pedas. Kami sampai harus mengantri dan menunggu beberapa menit. Dan sekarang terlihat beberapa pedagang sudah berkemas, rasa penat tergambar jelas di raut wajah mereka namun terselip rasa senang karena dagangan mereka laku terjual. Aku pun segera membayar makanan dan sebotol air mineral yang kuambil. Lalu kulangkahkan kakiku menuju halaman utama kampus. Kulewati kursi putih yang mulai tertidur melepas lelah akibat ulah penguasa seharian ini. Kuturuni anak tangga yang terbuat dari batu atau yang lebih dikenal dengan tangga batu satu persatu. Tak kurasakan lagi hangat sinar sang mentari. Kudongakkan kepalaku ke langit yang sudah kemerahan, kulihat burung-burung berterbangan mencari jalan pulang. Kuhentikan langkahku menuruni anak tangga terakhir, kusempatkan mataku mengamati sekelilingku. Terlihat beberapa petugas kebersihan sedang menyapu dedaunan yang berserakan. Suara gesekan sapu mereka sempat membuatku teringat kebiasaan nenekku menyapu halman rumah di sore hari. Terlihat pula beberapa mahasiswa masih setia bercengkerama sambil menikmati segelas kopi di depan akuarium. Samar-samar kudengar gelak tawa mereka.

Udara lembab tiba-tiba menghampiriku hingga membuat bulu kudukku berdiri. Tanpa sadar seseorang lewat tepat disebelahku. Pantas saja, dialah penyebab bulu kudukku berdiri. Tak lepas pandanganku darinya hingga dia berhenti di kumpulan penguasa penikmat kopi itu. Lalu pandanganku tertuju ke pelataran fakultas. Terlihat beberapa mahasiswa masi berkelompok, beberapa kelompok terlihat seperti sedang berdiskusi dan bertukar pikiran dan beberapa lainnya jelas sedang besenda gurau. Aku mulai membayangkan beberapa waktu kedepan, nampaknya suasana kampus di sore hari tidak akan sama seperti seperti sore ini. Halaman utama tidak akan sesunyi ini. Mungkin akan kelompok penikmat kopi lainnya dan bercengkerama hingga langit tak lagi kemerahan. Mungkin beberapa organisasi kampus pun akan mulai menambah waktu untuk berdiskusi dan membuat kegiatan saat senja tiba hingga petang. Dan aku pun meyakini gelak tawa dan derap kaki akan terdengar mulai dari terbit fajar hingga sang mentari ditelan kegelapan atau bahkan akan ada beberapa alas tidur terbentang di setiap sudut kosong kampus.

Beberapa pedagang di kantin dan kopma pun mungkin nantinya akan memperpanjang waktu buka mereka. Para pedagang kaki lima di luar area kampus pun akan semakin menjalar. Dan hal ini otomatis akan menambah pekerjaan petugas kebersihan, tanpa tambahan gaji. Saat pagi tiba para petugas kebersihan akan menggelngkan kepala dan menjerit dalam hati kalau mereka sangat membenci pekerjaan mereka. Otot-otot mereka mulai mengeras saat membersihkan sampa-sampah yang berserakan. Beberapa menit kemudian gundukan sampah mulai terlihat dan kampus sudah bersih kembali. Dan aku yakin para petugas kebersihan berharap tidak akan ada hari esok dengan hati yang menjerit dan otot-otot yang mengeras.

Aku pun teringat akan kejadian siang tadi. Saat aku dan teman-temanku menuju ATM, kami melewati halaman utama kampus dan melihat sebuah Volvo biru kesulitan mencari tempat parkir dan saat Volvo biru itu memutuskan untuk keluar dari halaman itu, tepat di tikungan Volvo biru itu menabrak pembatas di depannya. Aku rasa wajar jika hal itu terjadi, karena lahan parkir di dalam kampusku itu memang sempit dan terbatas. Kalau pun parkir di luar area kampus kita harus membayar cukup mahal. Aku pun mulai membayangkan lahan parkir di kampusku akan diperluas dan otomatis pohon-pohon yang ada di tengah halaman akan berakhir menjadi kayu bakar. Dan kampusku akan terlihat hampa tanpa hijaunya dedaunan. Teriknya matahari pun langsung dapat kurasakan membakar kulit ini tanpa ada yang bisa menghalaunya lagi. Serta tak ada lagi tempat untuk mahasiswa menikmati kopi sambil mencari segarnya udara di bawah pepohonan.

Aku pun tersentak, ternyata seseorang menepuk lembut pundakku. Dialah orang yang dengan semilisentimeter senyumannya dapat membuat satu meter senyuman di wajahku. Aku pun tersadar, lamunanku akan kampusku sudah membuatku terlambat pulang. Mentari pun sudah tak menampakkan sinarnya lagi.

Sebelum aku benar-benar meninggalkan area kampus, sempat mataku mengamati daerah disepanjang trotoar depan kampus. Para pedagang kakilima yang sedari pagi hingga siang tadi bejualan sudah tidak tampak lagi dan digantikan dengan orang-orang yang bercengkerama sembari menyanyikan lagu dengan gitarnya sambil ditemani secangkir kopi yang dibeli di warung tepat di sebrang jalan. Pohon-pohon di sekeliling pun ikut bergoyang bersama semilir angin yang berhembus lembut di kesunyian malam.

Sepeda motor yang kutumpangi pun melaju perlahan menuju arah pintu belakang kampus yang terletak di bagian atas. Kuamati lahan parkir yang tadi siang dipenuhi barisan sepeda motor yang terparkir dengan rapi. Sekarang lahan parkir itu tampak lengah dan tak ada satu pun sepeda motor yang terparkir di sana. Hanya terlihat seorang petugas sedang mengunci pintu yang terbuat dari rangkaian-rangkaian besi berwarna biru tua.

Kutinggalkan kampus Unisba tercintaku sejenak, karena esok kita akan berjumpa lagi. Aku berharap para mahasiswa yang datang dan pergi di kampusku mendapat ilmu yang sepadan dengan niat dan tekad mereka. Bagiku setiap harinya kampusku melantunkan melodi yang berbeda yang patut ku nanti syairnya.

written by Gita Mahayuningtyas